24 Kursi DPR Sudah “Bertuan”

MAKASSAR – 24 jatah kursi yang diperebutkan di tiga daerah pemilihan (Dapil) di Sulsel, pemiliknya sudah bisa ditebak. Tanpa mengabaikan hasil pencoblosan 9 April mendatang, caleg yang berada di posisi aman sulit lagi tergeser.

Mengacu survei terbaru Jaringan Suara Indonesia (JSI), Institute for Sosial Political Economic Issue (ISPEI), Celebes Recearch Center (CRC), maupun Indeks Politica Indonesia (IPI), hasilnya tidak jauh berbeda. Dari 288 calon anggota legislatif (caleg) yang mengadu peruntungan di tiga Dapil di Sulsel, beberapa diantaranya hampir dipastikan menjadi wakil rakyat. Hal itu berdasar, tren elektabilitasnya tak mudah lagi dikejar, termasuk pertimbangan suara partainya.

Di Dapil Sulsel I yang meliputi enam daerah, Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar, hanya kursi terakhir yang masih diperebutkan. Tujuh jatah lainnya diklaim sudah “bertuan”. Mereka yang dijagokan lolos ke senayan, masing-masing, tiga dari Partai Golkar. Mereka adalah, Emil Abeng, Hamka B Kady, serta Ulla Nucrhawaty. Nama terakhir, masih belum sepenuhnya aman. Lainnya, Caleg Demokrat Aliyah Mustika Ilham, Dewie Yasin Limpo (Hanura), Azikin Solthan (Gerindra), Tamsil Linrung.

Sementara kursi terakhir, ada empat yang berpeluang, yakni Mubyl Handaling (Nas- Dem), Indira Chunda Thita (PAN), Andi Ridwan Wittiri (PDIP), serta Amir Uskara (PPP). “Diantara nama-nama tersebut, peluangnya lebih terbuka ketimbang caleg lainnya, meski semua kemungkinan masih bisa terjadi di dua hari terakhir,” tutur Manajer Strategi Pemenangan JSI, Irfan Jaya, kemarin.

Direktur ISPEI Imam Mujahidin Fahmid, punya analisa yang hampir sama mengenai siapa pemilik 8 kursi di Sulsel I. Bagi dia, di Golkar sangat terbuka merebut 2-3 tiga kursi. Hanya posisi Ulla, bisa disalip Susilo MT Harahap. “Hanura satu kursi milik Dewie Yasin Limpo. Kursi terakhir jadi rebutan Amir Uskara (PPP) dan Indira Chunda Thita (PAN),” kata, Imam. Bagaimana dengan Dapil Sulsel II? Di wilayah pertarungan yang meliputi Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Sinjai, Bone, Bulukumba, Soppeng, dan Wajo, kondisinya hampir sama di Dapil I, yakni kursi terakhir masih menjadi rebutan beberapa caleg.

Di Dapil yang diikuti 108 caleg ini, Golkar terekam sudah bisa mengamankan 3-4 kursi. Diprediksi menjadi milik, Andi Rio Padjalangi, Syamsul Bahri, Azis Halid, serta Muh Yasir. Disusul Akbar Faisal (NasDem), Jafar Hafsah (Demokrat), serta satu milik Gerindra yang diperebutkan antara Andi Rudiyanto Asapa, Yasir Mahmud, atau Kamrussamad.

Disusul antara Andi Taufan Tiro (PAN), dan Nurhasan (Hanura). Satu jatah kursi lainnya, bakal dipertaruhkan Samsu Niang (PDIP), Andi Akmal Pasluddin (PKS), serta Andi Muh Ghalib, atau Andi Mariattang dari PPP. Tujuh kursi di Dapil III yang diperebutkan 84 caleg, pemiliknya juga sudah bisa terlihat. Di daerah ini, Golkar sudah aman di angka 2 kursi, dan berpeluang 3 kursi. Mereka yang diunggulkan, Markus Nari, Andi Fauziah Pujiwatie Hatta. Jika mendapatkan 3 kursi, Abdillah Natsir, serta Ali Muhtar Ngabalin berpeluang lolos. Jatah kursi lainnya hampir pasti milik Fatmawati Rusdi (PPP), Luthi A Mutty (Nas- Dem) Andi Nawir Pasinringi (Gerindra), Buhari Kahar Muzakkar (PAN).

Kursi terakhir diperebutkan Jacobus K Mayong (PDIP), Andi Timo Pangerang (Demokrat), Bahrum Daido (Demokrat), serta Andi Rahmat (PKS). Imam Mujahidin menyimpulkan kalau dari hasil survei yang dilakukannya, beberapa partai, seperti Hanura, Nasdem dan PDIP memiliki lompatan tinggi karena pencitraan dan gerakaan struktural partai di lapangan. “Para caleg tersebut memang massif kerja politiknya. Mereka caleg yang sungguhsungguh bekerja atau orang baru yang memiliki kekuasaan di daerah tertentu,” kata dia.

Irfan Jaya menambahkan, di survei terbarunya, kandidat incumbent dan pendatang baru tidak memiliki perbedaan yang begitu signifikan. Incumbent disebut memiliki modal popularitas, namun pendatang baru mampu melakukan percepatan gerakan. “Tidak ada perbedaan signifikan antara incumbent dan pendatang baru. Popularitas incumbent mampu dikejar pendatang baru. Sehingga peluang keterpilihan incumbent dan pendatang baru nyaris sama,” kata Irfan.

Direktur IPI Suwadi Idris Amir, menyebutkan, survei terbarunya yang digelar akhir Maret di tiga dapil di Sulsel, hasilnya hampir sama dengan temuan JSI, maupun ISPEI. Meski demikian, di Dapil II Jafar Hafsah dinilai belum sepenuhnya aman, karena memungkinkan disalip Nuraeni Sirajuddin, atau Natsit Umar. Begitu juga di Dapil I, Reza Ali (Demokrat) belum sepenuhnya terlempar, karena Demokrat terbuka peluang mendapat 2 kursi, meski tergolong tipis menembus angka tersebut.

Pengamat politik dari Universitas Hasanuddin Adi Suryadi Culla menguraikan, munculnya beberapa nama kandidat caleg pendatang baru di setiap dapil disebut bukanlah hal mustahil. Mengingat beberapa nama sejak dulu sudah bisa diprediksi. Seperti, sebut dia, Aliyah Mustika, Fatmawati Rusdi maupun Buhari Kahar Muzakkar yangmemiliki kekuatan jaringan politik dan nama besar keluarga pada wilayah tertentu di di daerah pemilihannya.

“Selain para pendatang baru didukung kekuatan politik dari keluarganya, mereka juga memang mempunyai modal finansial yang tidak kalah dengan incumbent. Aliyah dan Fatmawati itu pengaruhnya tidak hanya di birokrasi tapi juga pengaruh di partai ada,” kata Adi Culla.

Dia menambahkan, selain gerakan massif dari beberapa pendatang baru, citra negatif dari kandidat incumbent juga menjadi keuntungan dari mereka. Bahkan beberapa caleg incumbent disebut mendapat penilaiaan negatif, dan hal itu dipastikan kalau sebagian konstituennya akan berpindah.

“Apalagi caleg incumbent saat ini banyak disorot dan tidak mendapatkan penilaian positif dari basis massanya sebelumnya. Hal ini menjadikan posisi incumbent rentan bisa direbut. Ini memang nyata terlihat di lapangan,” pungkas Adi Culla, yang juga koordinator SINDO Akademik Forum (SAF). yusdin rukka/ arif saleh

Popular content